Header Surat

>> Wednesday, April 8, 2009

Read more...

Siapa Yang (Tidak) Ingin Kuliah?

>> Tuesday, April 7, 2009

Kompas (Edisi Jatim), Senin 23 Maret 2009

Oleh: Fauzi A Muda
Satu formulir saja bisa mencapai Rp 200.000 hingga 850.000. Para calon mahasiswa harus mulai merogoh kantong dalam-dalam. Belum lagi untuk biaya uang pangkal-nya. Bagi mayoritas masyarakat, biaya masuk perguruan tinggi termasuk berat dan harus dipersiapkan baik-baik (Kompas, 05/3).
Benar saja, saat ini hampir di seluruh perguruan tinggi negeri papan atas, ramai-ramai membuka jalur-jalur khusus masuk perguruan tinggi, yang biaya kuliahnya lebih tinggi dibanding mahasiswa jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri, SNMPTN. Masing–masing perguruan tinggi, memiliki program (biaya) yang berbeda-beda untuk jalur ini, termasuk perguruan tinggi negeri di Jawa Timur.
Selengkapnya baca disini

Read more...

Ponari, Kemiskinan, dan Investasi Sosial

>> Sunday, April 5, 2009

Oleh: A Ali Imron*
Ditengah suhu panas politik menjelang Pemilu 2009, masyarakat digemparkan dengan kehadiran bocah yang mendadak jadi tabib sakti dan diyakini mampu mengobati berbagai penyakit. Anak kecil itu bernama Ponari yang berusia 9 tahun, warga asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ponari adalah bocah lugu dari keluarga biasa ini mendadak kesohor.
Tentunya ada pelajaran yang bisa dipetik dari fenomena Ponari dengan batu ajaibnya. Umumnya, warga yang datang berobat berasal dari kelas bawah dengan kondisi ekonomi lemah dan pendidikan rendah. Kasus Ponari secara tidak langsung membuka mata jika masyarakat mencari alternatif pengobatan yang murah meski irasional dan berbau magis. Hal ini menjadi tamparan bagi dunia pengobatan medis moderen yang semakin sulit terjangkau karena mahalnya biaya. Selain itu, di tengah-tengah alam raya kekayaan tanaman medisinal (obat-obatan) yang luar biasa, harga obat-obatan di Indonesia masih sangat tinggi. Secara umum, harga obat-obatan di Indonesia lebih tinggi daripada harga internasional, bahkan termasuk yang tertinggi di Asia. Harga obat-obatan di Indonesia kurang lebih tiga kali lipat harga di Cina dan India. Tingginya harga ini menyebabkan pengeluaran rakyat untuk obat-obatan mencapai 40% dari total biaya perawatan kesehatan. Begitu juga dengan pemerintah, harus banyak belajar dalam membenahi layanan kesehatan bagi warga tidak mampu. Pemerintah harus memberikan jaminan kesejahteraan dengan memperbaiki kualitas hidup rakyat, sehingga tidak perlu jauh-jauh mencari obat dengan berdesak-desakan, malah hingga tewas karena terinjak dan kelelahan saat antre berjam-jam.

Diakui atau tidak, bidang kesehatan untuk peningkatan kualitas hidup manusia belum bisa diakses dan dirasakan secara merata dan mudah oleh kalangan rakyat miskin, baik di perkotaan maupun pedesaan. Hal yang diakibatkan oleh tingginya biaya kesehatan dan tingkat perekonomian rakyat yang masih buruk ini secara langsung juga berakibat pada diskriminasi pelayanan rumah sakit bagi rakyat miskin. Meski pemerintah, melalui Depkes dan PT. Askes telah mengeluarkan program-program semacam Askeskin, Gakin, dan sejenisnya, namun dampaknya terhadap rakyat miskin masih kurang siginifikan. Tahun 2008 misalnya, alokasi anggaran terbesar berada pada program upaya kesehatan perorangan yang anggarannya hampir 8 triliun. Besarnya alokasi upaya kesehatan perorangan ini didorong oleh premi bagi penduduk miskin. Hal yang sama terjadi dengan perlindungan sosial yang dilakukan yang hanya dikhususkan bagi kaum miskin ternyata di lapangan lebih dominan digunakan oleh orang kaya. Dalam hal ini semestinya kaum miskin dibebaskan dari biaya akses. Membebaskan kelompok miskin dari pembayaran mungkin tidak cukup untuk mempromosikan perawatan kesehatan.
Penduduk miskin seringkali harus mengatasi biaya akses dari pelayanan kesehatan diluar biaya pemakaian, seperti transportasi, penginapan, dan makanan termasuk opportunity-cost (biaya yang timbul akibat tidak bekerja untuk mendapatkan jasa kesehatan). Health Equity Fund yang dimiliki Kamboja tidak hanya membebaskan biaya perawatan kesehatan bagi penduduk miskin, tetapi juga biaya transportasi dan makanan mereka yang berkaitan dengan perawatan kesehatan. Padahal Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya kesehatan keluarga miskin (gakin) berkisar antara US$ 18 sampai dengan US$ 69, sementara di Indonesia hanya di jamin dengan premi Rp 5 ribu.
Potret Kemiskinan
Fenomena Ponari si dukun cilik tersebut juga menggambarkan cermin retak kondisi kemiskinan rakyat Indonesia secara umum. Tentu saja menjadi PR serius bagi pemerintah saat ini dan ke depan. Menurut sumber data Bappenas tahun 2009 menunjukkan, jumlah orang miskin diperkirakan melonjak ke angka 33,714 juta orang atau setara dengan 14,87 persen jumlah penduduk Indonesia (Kompas. 13/02/2009). Hal ini lebih tinggi dari target yang diinginkan pemerintah dalam mengurangi jumlah orang miskin di Indonesia, yaitu pada level 32,38 juta orang.
Menjadi catatan penting, selain pertumbuhan ekonomi, pembangunan manusia sangatlah penting dalam upaya mengurangi tingkat kemiskinan. Hal ini karena pendidikan dan kesehatan yang baik memungkinkan penduduk miskin untuk meningkatkan nilai asetnya mengingat terpenting mereka adalah tenaga mereka. Sehubungan dengan itulah maka investasi pada pendidikan dan kesehatan sangat penting artinya bagi pengurangan kemiskinan.
Kesehatan dan pendidikan merupakan dua hal utama dalam peningkatan kualitas hidup manusia. Kesehatan, pendidikan, kemiskinan, dan gender mempunyai keterkaitan dan hubungan erat. Kesehatan mempunyai nilai ekonomis karena terdapat efek pendapatan atau produktivitas tenaga kerja secara langsung dan juga alokasi waktu untuk aktivitas produktif. Status kesehatan yang rendah bisa mengurangi potensi pendapatan orang tua yang dampaknya bisa merupakan kendala bagi anak-anaknya untuk memperoleh pendidikan yang baik. Pada akhirnya, transfer pendapatan antar generasi terhambat. Sementara pendidikan mempunyai dampak terhadap pendapatan dalam jangka panjang, melalui kemampuan baca tulis dan pengetahuan. Peningkatan di dalam sistem pendidikan tidaklah hanya diharapkan untuk berperan secara ekonomis tetapi juga sosial melalui penurunan angka kesuburan, meningkatkan status gizi dan status kesehatan yang pada gilirannya berdampak positif terhadap kinerja ekonomi.
Investasi Sosial
Disinilah investasi sosial menjadi keniscayaan, dengan peningkatan belanja sosial kesehatan dan pendidikan pada akhirnya juga akan mengurangi penduduk miskin dan disparitas gender. Peningkatan belanja pada kedua sektor ini merupakan investasi pada manusia (human capital investment) di mana akan meningkatkan produktivitas. Biaya investasi sosial yang dikeluarkan dalam waktu tertentu akan mendatangkan manfaat berupa upah yang lebih tinggi (karena kenaikan produktivitas di masa yang akan datang). Pendidikan adalah salah satu instrumen yang terkuat untuk mengurangi kekurangan dan kerentanan: pendidikan membantu dalam peningkatan pendapatan, memperluas mobilitas tenaga kerja, meningkatkan kesehatan keluarga, membatasi jumlah anak dan kematian bayi, dan meningkatkan partisipasi dalam masyarakat dan sistem politik. Kebijakan belanja sosial pendidikan dan kesehatan pada gilirannya akan menurunkan biaya hidup keluarga yang selanjutnya penghematan biaya pendidikan dan kesehatan tersebut dapat digunakan untuk konsumsi barang/jasa lain atau digunakan untuk investasi keluarga.
Alokasi siginifikan di bidang kesehatan dan pendidikan selanjutnya akan meningkatkan kesempatan pelayanan dan aksesabilitas individu anggota keluarga yang sakit dan anak usia sekolah. Peningkatan pelayanan dan aksesabilitas kesehatan juga memberikan dampak pada peningkatan produktivitas baik jangka pendek maupun jangka panjang bagi individu. Untuk individu umur produktif kesehatan akan meningkatkan produktifitas dalam jangka pendek, untuk individu umur tidak produktif (anak-anak) kesehatan akan meningkatkan produktivitas dalam jangka panjang. Untuk itu, politik anggaran yang pro rakyat benar-benar dinantikan realisasinya. Agar rakyat tidak bingung dan menderita dalam memenuhi kebutuhan dasar akibat kemiskinan yang semakin akut dan tak kunjung usai. Semoga.
*Penulis adalah Peneliti pada Pesantren Institute Malang.

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kompas edisi Kompas Jatim

Read more...

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Free Blogger Templates Autumn Leaves by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP